<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>

<rss version="2.0"
 xmlns:blogChannel="http://backend.userland.com/blogChannelModule"
>

<channel>
<title>Mans Werang</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/</link>
<description>Aku sedang duduk sendirian ditemani keinginan untuk hening. Namun pertanyaan apa sih jalan meraih kebahagiaan itu? Kubaca banyak kisah hidup tentang orang lain, namun jawaban masih samar-samar saja. Memang ada jawaban di sana. Akan tetapi tatkala kulihat seorang ibu yang hampir setiap hari membawa sagu dan pisang berjalan di depan rumahku, dengan telanjang kaki menuju pasar dengan wajah yang gembira, selalu memberi senyum di bibir yang sudah menua. Kucoba menyapanya, dia membalas dengan senyuman, dan segera berlalu begitu saja dengan wajah yang semangat. Pada saat itu, kuyakini bahwa jalan meraih kebahagian adalah dengan melakukan kegiatan rutinitas, termasuk hal-hal yang sederhana dengan cinta yang lebih besar, tanpa gerutu tetapi dengan kesetiaan. Sulit! itu sudah pasti, tetapi itulah letak kebesaran hidup kita.... </description>
<pubDate>Sat, 2 Jul 2011 12:24:44 -0000</pubDate>
<lastBuildDate>Sun, 17 May 2009 17:28:05 -0000</lastBuildDate>

<image>
<title>Mans Werang</title>
<url>http://multiply.com/mu/manswerang/logo</url>
<link>http://manswerang.multiply.com/</link>
<width>100</width>
<height>100</height>
</image>
<item>
<title>Di tepi Sungai Babilon</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/music/item/1/Di_tepi_Sungai_Babilon</link>
<description>Lagu-lagu ini mengisahkan tentang kerinduan hati orang-orang Papua untuk hidup yang lebih damai, dan bahagia. Hati mereka yang sederhana meminta kesedian hati kita seperti orang samaria yang murah hati untuk menyapa mereka, duduk bersama mereka, dan menyanyikan kisah-kisah seperti di tepi sungai Babilon bahwa masih ada harapan untuk membangun hidup yang lebih baik, karena Tuhan selalu bersama mereka, bahkan Tuhan menari bersama mereka. Nikmatilah musik-musik ini untuk mengingat orang-orang Papua New</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/music/item/1/Di_tepi_Sungai_Babilon</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 17:28:05 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Tuhan akan Mengurus</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/10/Tuhan_akan_Mengurus</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;TUHAN AKAN MENGURUS&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;Mans Werang, CM&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-INDENT: 0.5in;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E;&#x201C;Jangan takut, Semuanya akan diurus habis-habi&#x3C;/i&#x3E;san&#x201D; Demikian email yang saya terima dari Rm Mateus Juang yang dikirimkan kepada saya. Kata-kata ini yang memberi penghiburan bagi saya. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-INDENT: 0.5in;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;Hari masih gelap saat itu. Rm Rudi, Rm Astanto, Rm Parmono dan Romo Biyanto,&#x26;nbsp; ibu Melly dan Ibu Merry mengantar saya di Bandara Surabaya. Suasana di Bandara sudah mulai terasa sibuk dengan berbagai aktivitas. Para penumpang bergegas masuk ke ruangan tunggu, dan mengurus &#x201C;check in&#x201D; di Bandara. Barang-barang bawaan saya lumayan berat, namun tidak mengurangi semangat saya untuk membawanya. Tidak banyak kesulitan saya temukan, saat check in dan masuk ke ruang tunggu, menanti&#x26;nbsp; penerbangan menuju Makasar. Satu keyakinan yang ada di benak saya bahwa manusia yang mengutus, tetapi pasti Tuhan akan mengurusnya. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Perjalanan dari Surabaya menuju Jayapura sesuai dengan rencana. Tatkala saya tiba di Jayapur...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/10/Tuhan_akan_Mengurus</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 12:25:14 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Photo Album 2009-05-17</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/photos/album/2/Photo_Album_2009-05-17</link>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/photos/album/2/Photo_Album_2009-05-17</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 07:18:23 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Di Beranda Nugini</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/6/Di_Beranda_Nugini</link>
<description>&#x3C;p style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;b&#x3E;DI BERANDA NUGINI&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Pagi ini mereka ingin membakar mobil di kampung ini. Kata seorang ibu kepadaku, saat aku bertemu dia di beranda pastoran. Orang-orang di kampung ini tidak menerima kematian saudara mereka. Keluarga dan kenalannya mulai datang dari berbagai kampung ke kampung ini dengan pertanyaan, mengapa dia mati muda? Semalam sekelompok orang merencanakan untuk membakar rumah dan membawa orang-orang yang dituduh penyebab kematian orang muda itu ke pengadilan desa. Bukankah orang muda yang meninggal itu, karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras? Kata saya kepada ibu itu. Menurut adat kami kematian bukanlah hal yang alamiah, apalagi dia masih muda, pasti ada orang yang membenci dia dan membunuh dia secara gaib. Demikian jawaban dari ibu itu kepadaku. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-INDENT: 0.5in;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;Saya tidak ingin melanjutkan lagi pertanyaan kepada ibu dan segera itu dia meninggalkan pastoran. Saya memilih duduk diam saja di beranda pastoran s...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/6/Di_Beranda_Nugini</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 04:38:57 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Why are we here?</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/5/Why_are_we_here</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;mso-bidi-font-weight: normal;&#x22;&#x3E;WHY ARE WE HERE&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;?&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-INDENT: 0.5in;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;Hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di kampung bernama Mohomnai. Beberapa orang di kampung itu menerima kehadiran kami di sebuah rumah kecil, milik seorang guru. Beberapa diantara kami langsung merebahkan diri dan tidur di rumah panggung itu. Tidak seperti biasanya di beberapa kampung lain yang kami kunjungi, setelah tiba di tempat, kami langsung memasak air dan membuat kopi panas dan teh untuk melegakan dahaga, tetapi di kampung ini kami memilih untuk membaringkan diri. Noel, salah satu rombongan kami sesekali&#x26;nbsp; mengerang kesakitan, karena lutut dan kakinya tidak dapat diangkat&#x26;nbsp; dan digerakan lagi, karena lelah dan capeh yang dia alami. Sementara saya juga memilih tidur, karena merasakan&#x26;nbsp; sakit di hampir seluruh tubuhku, setelah menempuh perjalanan kaki selama sepuluh jam melewati hutan. &#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Mengapa kita datang ke tem...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/5/Why_are_we_here</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 04:37:02 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Jangan Menghukum mereka</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/4/Jangan_Menghukum_mereka</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;mso-bidi-font-weight: normal;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;JANGAN MENGHUKUM MEREKA&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E;Anewe, anawe, wike butmen ko dudure prae&#x3C;/i&#x3E;&#x26;nbsp; (Maaf, semua orang di kampung ini berada di hutan). Demikianlah ungkapan hati seorang ibu yang datang menemui kami. Ketika itu kami baru saja tiba di kampung Mohomnai. Saya hanya duduk diam saja tanpa sebuah kata yang keluar dari mulut saya, karena lelah dan capeh berjalan kaki. Kwane dan desi mengeluh, mengapa mereka tidak ada disini? Mereka tidak menghormati kita. Perjalanan yang sangat jauh, tetapi kenyataannya tidak ada orang di tempat ini. Kita tidak akan datang lagi untuk mengunjungi mereka. Kata Desi, seorang mudika dengan nada kecewa dan jengkel. Sedangkan Joseph memilih diam dan hanya melihat sekeliling kampung yang tampak sepih. Saya dapat memahami apa bergejolak dalam hati Desi, karena menempuh perjalanan kaki selama sepuluh jam dengan memikul barang, makanan, perlengkapan misa, dan tiba di kampung ini tidak ada umat katolik. Bahkan...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/4/Jangan_Menghukum_mereka</guid>
<pubDate>Sun, 17 May 2009 04:31:50 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Mengapai tanah harapan</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/photos/album/1/Mengapai_tanah_harapan</link>
<description>Jika kita tidak mengambil resiko untuk Tuhan, kita tidak melakukan apapun untuk Tuhan. Demikian kata-kata Santo Monfort. bahkan Mother Thresa dan Mahatma Gandhi juga mengatakan hal yang sama. Apapun perjuangan dan pelayanan kita, tidak dibarengi dengan mengambil resiko untuk Tuhan, kita akan kehilangan makna dan arti hidup...pada titik ini diperlukan sikap yang reflektif. selamat menikmati sajian kisah-kisah dan foto-foto dari kami.</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/photos/album/1/Mengapai_tanah_harapan</guid>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 09:29:08 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Aku Ingin Pulang</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/3/Aku_Ingin_Pulang</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;AKU INGIN PULANG&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;Mans Werang, CM&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; Diletakkan begitu saja bajunya di atas tumpukan kayu bakar. Segera ia mengambil beberapa pisang mentah dan dibakar di dalam tungku api yang sedang menyalah. Sambil menunggu pisang yang sedang dibakar, dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Ia mengisap rokok itu dalam-dalam dan segera itu menghebuskan asap rokok itu keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya memberikan kelegaan tersendiri bagi dirinya. Pandangan matanya terarah pada pisang mentah yang sedang dibakar, sesekali dibalikannya pisang itu dan dikeluarkannya dari tungku api setelah dilihat pisang itu sudah dapat dimakan. Ia bergegas ke sudut rumahnya mengambil sebuah piring yang sudah agak kumal, diletakkan pisang di atasnya dan dihidangkannya &#x26;nbsp;kepada saya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan capeh, tampak dari lingkaran hitam pada kedua bola matanya. Namun ia tetap memberi senyum kepadaku. Itulah bap...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/3/Aku_Ingin_Pulang</guid>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 05:58:31 -0000</pubDate>
</item>
<item>
<title>Jatuhnya Pesawat Kami</title>
<link>http://manswerang.multiply.com/journal/item/2/Jatuhnya_Pesawat_Kami</link>
<description>&#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;b style=&#x22;mso-bidi-font-weight: normal;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;JATUHNYA PESAWAT KAMI&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/b&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;*Mans Werang, CM&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: center;&#x22; align=&#x22;center&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22; size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x3C;/font&#x3E;&#x3C;/p&#x3E; &#x3C;p class=&#x22;MsoNormal&#x22; style=&#x22;MARGIN: 0in 0in 0pt;TEXT-ALIGN: justify;&#x22;&#x3E;&#x3C;font size=&#x22;3&#x22;&#x3E;&#x3C;font face=&#x22;Times New Roman&#x22;&#x3E;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp;&#x26;nbsp; &#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E;Why he died and not me?&#x3C;/i&#x3E; Kata Bapak Uskup Gilles Cote yang sedang berbaring di rumah sakit dengan luka bakar di bagian tubuh dan tangannya, setelah pesawat terbakar dan jatuh di sungai. Pesawat yang jatuh itu berukuran kecil, yang melayani penerbangan antar paroki di keuskupan Kiunga dengan kapasitas penumpang lima orang. Sedangkan Pilot pesawat itu adalah Romo Butch, smm seorang imam Montfort dari Kanada. Para penumpang diantaranya adalah Sr. Pierrette Carignan, dw (&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E;Daughter of Wisdom&#x3C;/i&#x3E;), dua orang ibu,&#x26;nbsp; seorang bayi, dan bapak uskup. Tatkala pesawat lepas landas dari kampung Membok ternyata pesawat tidak dapat naik di atas ketinggian, dan saat itu pesawat mulai menghantam pucuk dan ranting dari pohon besar. Tampak baling-baling pesawat dan mesin pesawat mulai terbakar. Para penumpang mulai gelisah dan panik, sedangkan Romo&#x3C;i style=&#x22;mso-bidi-font-style: normal;&#x22;&#x3E; &#x3C;/i&#x3E;Butch berusaha untuk mencari tempat penda...</description>
<guid isPermaLink="true">http://manswerang.multiply.com/journal/item/2/Jatuhnya_Pesawat_Kami</guid>
<pubDate>Sat, 16 May 2009 02:47:12 -0000</pubDate>
</item>
</channel>
</rss>
